Sunday, August 26, 2012

bahagianya kau miliki saudara adalah mereka mampu memandangmu sampai titik terburukmu, kemudian mereka pula yang setia menasihatimu, :')

Friday, July 27, 2012

kelak, dari rahim ini yaAllah. *aamiin* Rabbi habli minashshaalihiin, :)

Romantis itu sesederhana, seorang ayah yang masuk ke kamar putrinya, bawa setablet obat dan bilang "Nih obatnya yang ini, diminum". :') *yaiyalah romantis, biasanya cuma disuru2 minum obat, ga pernah nyampe dibawain* :D

Monday, July 23, 2012

rindu-harap

selalu saja, ada setitik rindu yang kau titipkan
pada kelopak-kelopak mawar di pekarangan rumahmu.
pada awan-awan yang mekar bertebaran.
pada nyanyian-nyanyian musisi jalanan yang menemanimu sepanjang perjalanan pulang.


dan seketika itu, dalam rindu yang menghantarkanmu pada setangkup harap
bahwa di ujung jalan sana kau kan menemukannya.
sebuah batas yang menjadi kunci tuk menembus batas lainnya,
yang lebih mengangkasa.


~ruanghati,
4Ramadhaan1433

Monday, June 25, 2012

Unpredictable #2


Banyak hal yang pada akhirnya, suka ataupun tidak suka akan menjadi hal yang harus kita jalani.
Maka tepat sekali, ketika seorang bijak mengatakan
"Tuliskan semua rencanamu, dan berikan penghapusnya padaNya”
Ah ya, semakin lama saya semakin faham poinnya.
Mengerti, terkadang memang kita sendiri yang harus menjalaninya.
Tak sekedar mengerti, tapi memahami, menyadari,
untuk kemudian merelakannya.


Namanya juga hidup, tak selamanya manis, tapi ada pula pahit.
Yang namana hidup, tak semuanya baik, tapi ada juga buruk.
Hidup itu tak semuanya lancar, tapi terkadang tersendat.
Tapi percayalah, itu semua hanya siklus*


Pada akhirnya, hanya orang-orang yang memiliki kepekaan dan kelembutan hatilah yang bisa menemukan hikmah dibalik sebuah perjalanan.
Perjalanan yang tersasar sekalipun.
Dear Allah, bantu aku menemukannya, hingga tiada sesal yang terlintas dalam diri,
karena percaya bahwa caraMu yang terindah itu niscaya.

Ikhlas itu sulit, saat kau harus menghilangkan pikiran2
:"tuh kan.. Harusnya gini aja", "cb kalo kita hrsnya gitu"..
Ikhlas itu sesederhana
:bagaimana kau menerima bahwa segalanya tentangmu adalah yg terbaik dari Rabbmu
Ikhlas itu juga mengakui kesalahanmu sendiri sambil terus bertekad untuk memperbaiki

~ Sya'ban 1433



-seorangbocah,
yang masih terus menerus mengais-ngais hikmah yang Rabb-nya beri.

[to be continued], Insyaa Allah

**


Sunday, June 24, 2012

Pada akhirnya, hanya orang2 yang memiliki kepekaan dan kelembutan hatilah yang bisa menemukan hikmah dibalik sebuah perjalanan. Perjalanan yang tersasar sekalipun. dear Allah, bantu aku menemukannya, hingga tiada sesal yang terlintas dalam diri, karena percaya bahwa caraMu yang terindah itu niscaya. *Sya'ban 1433, dalam keharap-harap cemasan krn tersasar ke tempat asing yang baru kali ini ku jejak* #senyum #Bismillaah , Allah itu dekat, Zah.

Wednesday, June 20, 2012

"Lulus tepat waktu, skripsi yang selesai, ilmu yang manfaat, itu saaangat penting. Tapi yang membuatnya berharga adalah bagaimana selama proses perjalanan ke sana, kita bs meraih sebanyak2nya hikmatullah yang bertebaran. Dan bagaimana semakin dekat dengan ujung nya, semakin dekat pula hidup kita dengan Allah." #hasiltelaahberpikir --eNung Azizah M, 2012

Tuesday, June 19, 2012

"Menjaga" seorang dewasa, bisa jadi dengan meninggalkannya. "Menjaga" bagi seorang dewasa, tak melulu selalu bermakna seperti menjaga seorang bocah yang bermain gokar. :D

Friday, June 15, 2012

Aman(ah)

Seperti apa rasanya, ketika kau dihadapkan pada seseorang yang, dengan segenap kepercayaannya padamu, menitipkan benda kesayangannya padamu.

Lalu, karena kelalaianmu, ketidakcermatan kau menjaganya, benda itu rusak, entah pecah, atau mungkin sampai berbelah.

Bisakah kau gambarkan, bagaimana perasaannya saat itu ?

Sekali lagi, ketika dulu ia menitipkannya padamu, salah satu sebabnya karena ia telah mempercayaimu.

Tapi kamu justru mengecewakannya, kelalaianmu ketika menjaga, lalu merusaknya.

Bisakah kamu lukiskan, bagaimana kira-kira perasaan (ekspresi) orang itu > ?  ?

 

Mungkin, kau akan  meminta maaf padanya dan berusaha untuk mengganti barang itu semampumu.

Mengembalikan mood orang itu dengan caramu,

Mengakui salahmu tulus, dan mengatakan padanya

: “Maafkan aku, aku memang bukan sebaik-baik penjaga, mungkin ini cara Allah menegurku, untuk lebih kembali berhati-hati ketika menjaga titipan. Maafkan… “

 

Titipan.

Apa bedanya dengan amanah?

Sama.

Amanah itu titipan. Titipan itu amanah.

Sebab (sejatinya) tak ada satupun yang kita punya, ‘kan?

 

Jika merusak benda orang lain yang dititipkan padamu saja, begitu membuatmu merasa bersalah.

Bahkan harus menggantinya, meminta maaf padanya.

Maka,

“Bingkisan” yang Allah titipkan padamu itu,

Seharusnya memang dapat sungguh-sungguh kau jaga.

Jika satu dua rambu di perjalanan mengharuskanmu untuk berhenti sejenak, menepilah.

Jika titipanNya masih saja lalai kau jaga,

Maka, tetaplah menjaga.

Sebab Sang Penitip masih dengan setia menantikan permintaan maafmu, seberapapun lalaimu.

Hei,, hei ! kamu ! iyaa kamu !

Yang Menitipkannya padamu (sebenarnya) tak butuh dirimu,

Ia hanya ingin melihat kesungguhanmu, menjaganya “bingkisan” dariNya hingga batas akhir.

Itu. Itu. Dan hanya Itu.

 

 

 

 

: teruntuk, ruang hati paling dalam.  

Semoga senantiasa Ia lembutkanmu, agar dapat kau petik beribu, bahkan lebih,

hikmahNya dari apapun yang kau lihat, dengar, dan rasa.

*walau hanya dari “sesuatu yang hilang”

 

 

~ Rajab 1433

#np: Snada - Rindu