Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Monday, July 23, 2012

rindu-harap

selalu saja, ada setitik rindu yang kau titipkan
pada kelopak-kelopak mawar di pekarangan rumahmu.
pada awan-awan yang mekar bertebaran.
pada nyanyian-nyanyian musisi jalanan yang menemanimu sepanjang perjalanan pulang.


dan seketika itu, dalam rindu yang menghantarkanmu pada setangkup harap
bahwa di ujung jalan sana kau kan menemukannya.
sebuah batas yang menjadi kunci tuk menembus batas lainnya,
yang lebih mengangkasa.


~ruanghati,
4Ramadhaan1433

Thursday, September 22, 2011

bisu

Bismillaah..

seperti aku yang merindukan,
bicaramu, justru dalam diammu.
kau. seperti itu pula aku merindumu,
lewat susunan abjad,
entah untuk siapa,
yang aku tahu,
hanya kau dan Dia yang tahu.

seperti itu,
merindumu dalam kalimat-kalimat bisu,
yang, sekali lagi, entah untuk siapa,
yang aku tahu,
aku seperti tak pernah ragu.

seperti itu pula kamu,
mengajakku menyelami duniamu,
lantas kau pergi meninggalkanku.
membuat aku diam dan (hanya) termangu.

karena memang,
boleh aku ulangi sekali lagi ?
entah untuk siapa,
sungguh, aku tak tahu.


: buat kamu,
yang selalu membuat aku merindu,
lewat aksara yang kau deretkan,
tanpa ragu.
tanpa ku tahu.
hanya bisu.




16.10
@sudutruangbekalabsky



Thursday, July 14, 2011

dari sebuah jiwa

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Bersimpuh aku, padaMu, duhai penggenggam setiap jiwa.


Jika memang,
Cinta adalah perekat hati.
Maka yang ku tahu,
Cinta itu karenaMu.

Jika memang,
Kau telah satukan hati-hati kami,
Maka yang ku tahu,
Ikatan itupun akan terputus,
Seiring dengan "terputus-putus"-nya cinta kami padaMu.

Duhai Penggenggam setiap jiwa,
Duhai Pemberi segala rasa,
Duhai Pewujud segala asa,
Duhai Pemerhati setiap manusia,
Duhai..
Engkau..
Yang memadukan simpul ikatan kami yang -terlanjur- bersatu.

Duhai Allah...

untuk segala salah,
sepenuhnya salahku.
tapi maafMu jauhhhhhh lebih luas dari bingkai kesalahanku.


**
: untuk kedua manusia teristimewa,
: untuk guru-guru
: untuk semua saudara-saudari

maafkan izzah yang tak mau banyak mengerti.
maafkan izzah yang selalu menuntut untuk dimengerti.

untukmu, warna warni-ku..



kutulis ini, bukan hanya dengan kata.
sungguh..

dari sebuah jiwa yang memohon maaf tulusmu. 



@ruang hati,

Purnama Sya'ban 13 - 1432 H
23: 04






Wednesday, June 29, 2011

KEPADAMU

ketika bahasa tak lagi pcaya pada kata

apakah yg masih bisa kita ucap?

: cinta


ketika wajahmu tak lagi menampakkan

kening, mata, hidung dan mulut

apakah yang masih bisa kukecup?

: doa


(HTR-Sajadah Kata)

Saturday, May 28, 2011

Colaborative Writing #1

ni bait berbalas bait, empunya saya dengan seorang teman, (BGM)
jadi colaborative writing gitu.. hehe.. tapi lumayanlah menghasilkan puisi dadakan.. *lhoh..

Biar aku tanyakan pada jingga,
tentang ia yang masih mengeluh manja,
atau ku tengadahkan wajah pada sekawanan burung di bawah awan,
tentang bagaimana keikhlasan berkawan.
(izz)

Biar ku kabarkan melalui leaflet-leaflet yang bertebaran di jalanan,
tentang rumitnya operet kehidupan, :D
(bgm)

atau ku lafadzhkan saja kalimat-kalimat cinta,
agar ku bisa memahaminya menjadi sederhana , :)
(izz)

Biar ku pintakan kepada surya,
agar orang-orang tak bermain drama,

atau kupintakan kepada samudera,
agar orang-orang tak berpura-pura,
(bgm)

Meski aku tak bisa menatap keluasan semesta,
tapi ku percaya,
bumi tempat ku berpijak ini begitu bermakna, :)
(izz)


Rabiul Awal 1432 H.
repost.. dengan sedikit perubahan.
hasil colaborative writing di notes fb, :D

Wednesday, December 22, 2010

A.F

*ini puisi-puisinya Faiz untuk sang adik,,

 

 

 (Senandung Ayah Bunda)

 

Kau bertanya padaku

tentang dua mata peri

Percayalah

binarnya tak seterang

mata bunda

kala menatap

dan menggenggam tanganmu

 

Pada setiap napasnya

bunda membuat matahari-matahari baru

dalam jiwamu

 

 

Kau bertanya padaku

tentang dua kaki gunung itu

Percayalah

kokohnya tak setegar

bahu ayah

kala memanggulmu

tanpa istirah

 

Pada setiap napasnya

ayah memancangkan tiang-tiang asa

agar langkahmu sampai pada bianglala

 

##

 

Dari jemari kecilmu

kau jentikkan lagi cinta

dan puisi yang tak perlu arti

meluncur dari bibir mungilmu

 

“Mas, datanglah padaNya,”

 

mungkin itu yang ingin kau katakan

lewat wajah jernihmu

yang menyala di kegelapan

 

Ah, cinta memang tak pernah lelap

dalam matamu yang terjaga

dini hari

membangunkanku berwudhu

 

**

 

heuheu,, kalau dia 'mas-ku',

kan ku katakan padanya:

dengan caramu yang  sederhana,

kau telah membuatku begitu berharga.

^^