Wednesday, February 16, 2011

Ujian itu, menyaring hati dan membongkar apa yang ada di dalam dada : keimanan, kemunafikan, atau kekafiran.

Pyarr !

Pyarrr !

Bahwa yang didapatkan adalah apa-apa yang dibutuhkan,
bukan hanya sebatas yang diinginkan.
Bahwa hal-hal -to the point- memang harus segera disampaikan,
bukan hanya mengagung-agungkan penerimaan, pengertian, ataupun perasaan.

Bahwa Ia memang Maha Tahu,
harus dengan cara ini kau dapat dimengerti.

Bahwa tamparan ini mendarat secara tepat,
karena itu demi sebuah perbaikan.
Sebuah tamparan,
bukan membuatmu justru terpental,
karena kau telah sadari betul itu.
bahwa sakitnya tamparan itu tak (selamanya) terikat dan melekat.

Sebuah tamparan yang kau dapati dari orang-orang yang telah dipilihNya.
Mereka yang mengingatkan segala lalaimu.
maka,
Back to Him..! Back to Al Furqaan !

Wednesday, February 9, 2011

‎"Indikasi sedang kuatnya keimanan kita adalah jika kita membaca quran sulit untuk berhentidan ingin terus melanjutkan, seolah dahaga hati ini belum terpuaskan" -Utsman Bin Affan-

‎"Berusaha dan berkarya demi kesenangan saja adalah bodoh dan sungguh kekanak-kanakkan" (Aristoteles- Ethica Nichomachea)

terserak. (1)

Kemacetan = Uji Kesabaran.

Macet + Nyasar (pula) = Uji Keikhlasan.

 

Hm, agaknya berdamai dengan takdir itu menjadi hal paling manis.

biar nantinya gak marah-marah,

biar nantinya gak jungkir balik,

terlebih lagi sakit jiwa.

 

dan pada akhirnya,

Menengok-nengok seberapa besar upaya kita untuk menjemput takdir itu.

 

Satu lagi,

yang perlu sering-sering kita cek ulang berkali-kali,

kapanpun itu,

ya.. apalagi ?

selain empat huruf itu:

N I A T

 

yosh...!

 

@Kemacetan Pulo Gadung -  m 0N 45

hanya karena cintaku.

meski,

baktiku padaNya selama ini

tak ada seujung kuku-pun dapat menyamai Ash Shiddiq, Al Faruq,

apalagi menyamai engkau wahai Lelaki Akhirat yang lembut hati..

 

tapi aku mencintai mereka,

aku juga mencintaimu, wahai Nabi.

 

**

Duhai Rabbku,

izinkan aku untuk meminta padaMu..

 

dengan cintaku ini,, izinkan aku memasuki taman-taman surgamu,

sebab kecintaanku pada mereka, yang membuatku semakin mengenalimu, Rabbku ^^

 

*sedikit banyak, ini kata2 Ust. Salim A. Fillah waktu taujih kemarenan itu.

dengan sedikit pengubahan, tentu.

dan MNI-pun semakin mempesona

Bismillah..

 

meski tak seindah senja-senja kemarin yang berpesta jingga,

meski kali ini tanpa gradasiwarna langit yang selalu mampu membuatku terperangah.

hujan yang sudah mengguyur sejak siang tadi.

.mendung.

ah, kenapa mesti bicara “meski” , Zah (!)

padahal itu sudah jelas-jelas kehendakNya.

mau hujan-kering-kemarau-salju, ya.. itu kehendakNya.

harusnya syukur.

ditambah lagi pada hujan itu, ada bonus2 rahmat didalamnya, maka perbanyaklah doa.

Bukankah begitu Sang Lelaki Penggenggam Hujan mengajarimu ?

 

Hujan kali ini,

.sejuk sangat.

sebab ia memberikan ruang padaku untuk berkontemplasi.

 

##

 

Alhamdulillaah.

Pen-demisioner-an itu, sesaat membuatku -lega-.

semoga pemaparan pertanggungjawaban kali ini meringankan perhitungan kita nanti di hadapanNya. Aamiin.

memang harus aku akui, sempurna itu memang belum bisa aku jalani. tapi setidaknya aku telah berusaha memberikan yang ku mampu, yang ku bisa.

urusan hasil, urusan nilai.

kucukupkan, biarkan Ia saja yang menilai.

 

ah, demisioner, lega (?)

tapi, tunggu .

lama-lama aku rasakan lagi perasaanku yang satu itu,

lega (!)

##

 

Sejujurnya,

-akan dimana aku setelah ini- (?)

tandatanyattandatanya itu memenuhi ruang kepalaku.

tapi aku percaya, garis kita sudah ditetapkan, bukan ?

asal masih di ‘jalan ini’.

apapun itu. bukan posisi yang penting, tapi kontribusi.

##

 

cantik saja, Ia jawab kemudian..

dalam jama’ah Maghrib di MNI..

 

“Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa..”

ayat terakhir Al Baqarah ini kembali menyadarkan..

: bahwa Allah tak akan memberikan sesuatu diluar kemampuan hambaNya.

 

juga berkali-kali “sindiran manis” dari Allah kembali dilafazkan..

“Fa bi ayyi alaa irabbikuma tukadziibaan…”

 

**

All praises to Allah.

Tarbiyah Allah itu, yang mana yang gak keren ?

^^

**

 

untuk senja kali ini,

kesejukan yang kudapati.

Syukurku (selalu) padaMu, Rabbi.

atas atmosfer-atmosfer surgawi.

ukhuwwah, lebih dari sekedar cinta.

Demi Allah !

tak ada yang lebih indah dari persaudaraan selain atas dasar Illahi.

yang selalu terlahir dari kemanisan imani.

senantiasa terwarnai lewat rasa saling mencemburui,

kalau ada diantara kita yang lebih dulu berlari.

pasti yang lainnya juga ingin mendahului.

ya. cemburu, yang selalu memotivasi diri.

 

 

1 Rabi’ul awal 1432 H / Februari 4th 2011

jam 23.22 waktu dilayar.

 

Sambil dengerin, JEJAK-nya Izzatul Islam


Menapaki langkah-langkah berduri

Menyusuri rawa, lembah dan hutan

Berjalan diantara tebing jurang

Semua dilalui demi perjuangan

 

Letih tubuh di dalam perjalanan

Saat hujan dan badai merasuki badan

Namun jiwa harus terus bertahan

Karena perjalanan masih panjang

Kami adalah tentara Allah, siap melangkah menuju ke medan

juang

Walau tertatih kaki ini berjalan

Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan

 

Wahai tentara Allah bertahanlah,,

Jangan menangis walau jasadmu terluka

Sebelum engkau bergelar syuhada

Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah


(postingan tertunda, lagi2.. baru ngonek )

Wednesday, February 2, 2011

Mengokohkan Tradisi Ilmiah

Mengokohkan Tradisi Ilmiah

Oleh : Anis Matta

 

OSAMA” kata Fisk, seorang wartawan Inggris yang pernah menemuinya, “adalah sedikit orang Arab yang tidak merasa malu untuk berpikir sebelum berbicara”. Kesan wartawan Barat yang dinukil majalah Tempo itu kemudian dijadikan ciri yang membedakan Osama dengan Saddam Hussain atau Muammar Qaddafi, misalnya.

Kesan itu mungkin mengejek tradisi orang Arab yang gemar berbicara tanpa berpikir. Tapi menurut saya, itu bukan hanya ciri orang Arab atau bangsa lainnya. Itu merupakan satuan mutu yang menandai tingkat peradaban baru masyarakat. Berpikir sebelum berbicara adalah salah satu dari tradisi ilmiah yang kokokh.

Tapi tradisi ilmiah yang kokoh, yang merupakan salah satu faktor yang dapat mengubah keragaman menjadi sumber produktivitas kolektif kita, tidak hanya ditandai oleh ciri di atas. Ia juga ditandai oleh banyak ciri.

Pertama, berbicara atau bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan.

Kedua, tidak bersikap apriori dan tidak memberikan penilaian terhadap sesuatu sebelum mengetahuinya dengan baik dan akurat.

Ketiga, selalu membandingkan pendapatnya dengan pendapat kedua dan ketiga sebelum menyimpulkan atau mengambil keputusan.

Keempat, mendengar lebih banyak daripada berbicara.

Kelima, gemar membaca dan secara sadar menyediakan waktu khusus untuk itu.

Keenam, Lebih banyak diam dan menikmati saat-saat perenungan dalam kesendirian.

Ketujuh, selalu mendekati permasalahan secara komprehensif, integral, objektif, dan proporsional.

Kedelapan, gemar berdiskusi dan proaktif dalam mengembangkan wacana dan ide-ide, tapi tida suka berdebat kusir.

Kesembilan, berorientasi pada kebenaran dalam diskusi dan bukan pada kekenangan.

Kesepuluh, berusaha mempertahankan sikap dingin dalam bereaksi terhadap sesuatu dan tidak bersikap emosional dan meledak-ledak.

Kesebelas, berpikir secara sistematis dan berbicara secara teratur.

Keduabelas, tidak pernah merasa berilmu secara permanen dan karenanya selalu ingin belajar.

Ketiga belas, menyenangi hal-hal yang baru dan menikmati tantangan serta perubahan.

Keempat belas, rendah hati dan bersedia menerima kesalahan

Kelima belas, lapang dada dan toleran dalam perbedaan.

Keenam belas, memikirkan ulang gagasannya sendiri atau gagasan orang lain dan senantiasa menguji kebenaran.

Ketujuh belas, selalu melahirkan gagasan-gagasan baru secara produktif.

Tentu saja ketujuh belas ciri di atas bukanlah semua ciri yang menandai tradisi ilmiah yang kokoh. Itu hanyalah ciri yang pangling menonjol. Apa yang terlihat pada ciri-ciri itu adalah nuansa yang kuat tentang keyakinan, kepastian, fleksibilitas, dinamika, pertumbuhan, kemerdekaan, kebebasan, dan keakraban. Mereka yang hidup dalam sebuah komunitas dengan tradisi ilmiah yang kokoh meraskan kemandirian, aktualisasi diri, kebebasan, kemerdekaan, tapi juga menikmati perbedaan, tantangan, dan segala hal yang baru. Mereka juga telah menelusuri detil dan kerumitan, sabar dalam ketidakpastian, dingin dalam kegaduhan, tapi sangat percaya diri dalam mengambil keputusan.

Tapi, darimanakah tradisi itu terbentuk ? Faktor-faktor apakah yang mendukung proses pembentukannya ? Tidakkah itu kelihatan terlalu ideal ? Sulitkah membangun tradisi itu ? Tradisi ilmiah bukanlah sekedar kebiasaan-kebiasaan ilmiah yang baik tapi lebih merupakan standar mutu yang menjelaskan kepada kita diperingkat mana peradaban suatu bangsa atau suatu komunitas itu berada. Tradisi ilmiah bukanlah gambaran dari suatu kondisi permanen. Namun, lebih mengacu kepada suatu proses yang dinamis dan berkembang secara berkesinambungan.

Tradisi ilmiah mengakar kepada cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan. Tentang fungsi dan perannya dalam membentuk kehidupan kita. Tentang seberapa besar kita memberinya ruang dan posisi dalam kehidupan kita. Tentang sejauh mana kita bersedia mengikuti kaidah-kaidahnya. Tentang berapa banyak harga yang dapat kita bayar untuk memperolehnya. Kata ilmu terulang lebih dari 800 kali dalam Al-Qur’an. Rasulullah saw. menyebutnya sebagai syarat untuk merebut dunia dan akhirat sekaligus. Itulah sebabnya Imam Ahmad bin Hambal mengatakan, kebutuhan manusia terhadap ilmu pengetahuan sama besarnya dengan terhadap makan dan minum. Atau, bahkan lebih besar lagi.

Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh susunan pengetahuan yang benar. Sebab, pengetahuan yang terserap dengan susunan yang salah akan membuat kita mengalami keracunan dalam berpikir. Ilmu-ilmu yang kita serap tidak saling terkorelasi secara fungsional dengan benar. Seseorang akan gagal memahami Islam dengan benar jika tidak mempelajari ilmu-ilmu Islam dalam susunan yang terangkai secara benar. Misalnya, jika ia hanya mempelajari tasawwuf. Demikian juga jika seseorang mempelajari kewirausahaan dalam ekonomi modern dan tasawwuf pada waktu bersamaan. Mungkin sekali akan mengalami split jika tidak mempelajari system Islam secara menyeluruh dan sistem ekonomi Islam secara khusus.

Setiap kelompok ilmu pengetahuan mempunyai susunannya sendiri-sendiri, termasuk pola hubungan internalnya. Misalnya, kelompok ilmu-ilmu keislaman, kelompok ilmu-ilmu sosial, humaniora, kelompok ilmu-ilmu alam. Tapi, semua kelompok ilmu itu juga mempunyai korelasi antara mereka yaitu struktur, fungsi dan sejarah perkembangan yang berakar pada sebuah paradigma besar, yang kemudian kita sebut sebagai filsafat lmu. Tapi, apa yang penting bagi kita, dalam kaitan dengan susunan pengetahuan itu, adalah sifat dan pola pengetahuan kita.

Setiap pendidik hendaknya menggabungkan antara pengetahuan yang komprehensif, bersifat lintas disiplin, dan generalis dengan penguasaan yang tuntas terhadap satu bidang ilmu sebagai spesialisasinya. Yang pertama mengacu kepada keluasan. Sedang yang kedua mengacu pada kedalaman. Yang pertama memberinya wawasan makro, yang kedua memberinya penguasaan mikro. Yang pertama memberi efek integralitas, yang kedua memberi efek ketepatan. Dengan begitu seorang pendidik senantiasa berbicara dengan isi yang luas dan dalam, integral dan tajam, berbobot dan terasa penuh.

Tradisi ilmiah selanjutnya dibentuk oleh sistematika pembelajaran yang benar. Waktu kita tidak memadai untuk menguasai banyak ilmu. Waktu kita tidak cukup untuk membaca semua buku. Tetapi, kita tetap dapat menguasai banyak ilmu melalui sistematika pembelajaran yang benar. Untuk itu, kita memerlukan seorang guru, seorang ulama, yang mengetahui struktur dari setiap ilmu dan cara mempelajarinya.

Akhirnya, membaca adalah instrumen utamanya. Dan, jika kita ingin mengokohkan tradisi ilmiah kita, sudah saatnya kita berhenti membaca apa yang kita senangi. Beralihlah untuk membaca apa yang seharusnya kita baca.

Membangun sebuah tradisi ilmiah yang kokoh tentu saja membutuhkan kesungguhan dan keseriusan serta kesabaran yang melelahkan.

(Menikmati Demokrasi, Anis Matta)



Tuesday, February 1, 2011

lis(t)ulis


ini list, yang mau aku tulis, 

-meski masih lintasan2 pikiran yang mengawang-ngawang-
atau secercah perasaan rindumendalambercampurbahagiakagumberbungkustulus
atau sebuah imajibersamamimpi, suatu saat nanti.
Bismillah.. Biidznillah..Bisa ^^

jreng jreng..

Pertama, Suatu hari, bersama seorang saudari.
Cerita ini, berupa kisah dan penuturan kami. Tentang kekaguman kami (yangternyata) pada orang yang sama. ^^ - udah ng-post di sebelumnya.

Kedua, Berangkat dari suatu hobi menulis (atau: mengetik, ya ?). Hingga pada akhirnya menjadikannya salah satu cara untukku memvisualisasikan segala lintasan pikiran dan perasaan yang ada. 
Beberapa saat yang lalu,  pikiranku berkelana bersama duniakompetensi yang saat ini tengah dan akan aku geluti nantinya, dunia: Konseling.
Selanjutnya adalah, betapa inginnya mengkolaborasikan kedua hal tersebut.
hehe. jadi komidiputer gini memaparkannya.
hm, sederhananya begini deh, 
jadi tertarik buat bikin penelitian tentang : konseling lewat tulisan.
atau setidaknya,  adanya assesmen model baru, lewat pemaparan tulisan. ^^
*karena sejauh ini, aku belum nemuin teori tersebut.
bisa gak ya ? hm, ragu lagi gini. ssssssssshhhhhh..
huaaaaaaaaa..... ini tuh pikiran dingdong apa gimana ya ?
emm, dueng2..
penting untuk mencari-cari literasi lagi ini. yeaahhh.. 

- Haha, untuk planning tulisan yang satu ini, aku cuma pengen (aku dan temen2) punya ruuhul jadiid untuk amanah2 baru selanjutnya, ya.. tulisannya gak jauh-jauh tentang : motivasi, insyaa Allah. ^^

Selanjutnya, Pengen nulis juga tentang : nikah. 
hah (?) hahai..
yang ini hukumnya, mubah deh 

- yang terakhiruntuksaatini, mau melanjutkan lagi  bakalnovel yang baru mulai dirilis kemaren-an itu. jiaaa..

dan untuk :
imaji..realita..logika..mimpi(n)..rasa..cita..cinta..
al-Islam, al-Imaan, al-'Azzam, dan al-'Izzah !
ayo, kalian..bersinergi-lah ^^

Rabb-mu itu, always be there, Zah