Wednesday, November 24, 2010

Cukuplah Allah bagiku.. Cukuplah Allah saja yang tahu..

Tuesday, November 23, 2010

duarr..duar.. duar... doktrin bertubi2.. huaaaaa... *kuatkan aku, rabb.

Thursday, November 18, 2010

ditampar itu sakit, tapi indah, pada akhirnya. seperti minum obat, meski pahit, tapi harus. kalau mau sembuh...

tertampar itu manissssssssss...

Monday, November 15, 2010

* sebentuk cinta

Bismillahirrahmaanirrahiim..

 

“... maka Allah mempersatukan hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang2 yang bersaudara”

(QS. ‘Ali ‘Imran : 103) 

 

Jika memang ada kekata yang lebih pantas kuucap dibanding “kesyukuranku penuh, padaNya”, maka katakan padaku , kekata apa ?

Jika memang ada rasa yang lebih pantas mewakili dibanding “bahagia”, maka katakan padaku, rasa apa ?

Jika ada momen (paling) indah yang dapat lebih aku dapatkan dibanding momen kebersamaan denganmu, maka katakan padaku momen apa ?

 

Shalihah..

Kau tahu tidak.. ?

Kalau kau adalah sebentuk cinta yang Ia titipkan padaku

kau..

Sosok teladan yang sehari-harinya amat dekat denganku

Pribadi shalihah yang selalu membuatku begitu iri padamu

Pada bijaksana yang selalu terukir dari ucap-mu

Pada kelembutan yang selalu menghiasi tiap laku-mu

Pada tebaran senyum yang kian hari kian merekah

Pada kesabaran yang begitu tampak pada air mukamu, aku  menjadi semakin tahu,

bahwa begitu pula isi hatimu…

Pada kesibukan hari-harimu yang penuh dengan agenda dakwah

Pada ketangguhanmu menjalani hari2 dengan cerah meski sebenarnya kau begitu sesak dengan masalah, tapi kau begitu tahu.. kalau itu adalah tarbiyah Nya..

 

Bahkan..

aku juga begitu iri..

Pada kerisauanmu kala sedikit saja kau lalai..

Pada cemburumu yang begitu besar untuk senantiasa ber fastabiqul khairat

 

Shalihah..

Kita memang sedang sama-sama berlari..

Meski kau telah sedemikian jauhnya,,

Dan aku masih sekian kali terjatuh disini..

Maka, kumohon..

Bimbing aku, selalu …

Untuk menujuNya..

Jangan pernah kau tinggalkanku sendiri,

Meski aku yakin.. kalau Ia selalu membersamaiku..

Tapi aku ini anak manusia..

Memiliki yaziid dan yanqus, tentu…

Meski harapku, selalu.

Agar yanqus itu tak lama-lama hinggap padaku-padamu-pada kita, shalihah…

 

01.23 dini hari. November 13th 2010

Forum Akhwat Tarbawi..

Disaat sodari2 sudah terlelap manisnya..

Ohya, izinkan saya mengutip nasehat Sang Murabbi…

 

Berikut…


Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.

 

Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

 

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

 

(Allahyarham Ust. Rahmat Abdullah)

 

 

* special thx buat Faizah S. Q yang udah ngebacain goresan hati saya di hadapan parasaudari :)

Friday, November 12, 2010

just a one step for..

"Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta; Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh.." (Tasaro: GK)

 atau ini,
 

“Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani”

Selalu begini. Ketika saya merasa, hubungan psikologis antara saya dengan sodara biologis tak seerat hubungan psikologis antara saya dengan sodari2 yang saya temui di’ladang perjuangan’, tanya kenapa ?
 

Selalu begitu. Kenyamanan mereka (adik2 saya senasab) mengkatarsiskan diri pada saya, rasa-rasanya tidak se-vulgar- katarsis mereka (teman seladang perjuangan) pada saya. tanya lagi, kenapa bisa begitu ?
 

Bukan hanya dalam hubungan psiko, sebenarnya. Tapi ini, jelas, lebih kepada keterkaitan dan keterikatan hati.

Sebenarnya mah sudah sejak lama saya merasakan kegamangan ini. Hanya saja, saya baru kembali menyadari (dan berniat untuk memperbaikinya) akhir2 ini. Seusai…….

 

deg aja.

sore itu, ketika umi menunjukkan sms2 dari seorang adik saya yang sekarang sedang berguru dikaki gunung sana. (hhe, bukan bertapa kok, tapi lagi mondok..)

hmm, saya punya dua adikperempuan yang sedang berguru dikaki gunung sana.

yang pertama, kelas 3 MA, dan yang kedua, kelas 3 Mts.

Mereka, beda.

Karakternya, beda banget.

yang satu mah cueknya bukan main, yang satunya lagi, ampun2 dah sensitifnya.

(baca: cuek disini artinya sabodo teuing di jenguk-in atau kaga).

 

Pernah, satu ketika saya berkesempatan untuk datang ke kaki gunung itu, jengukin mereka ceritanya, haha. Waktu itu, saya cuma berdua dengan umi, naek kereta.

Sesampai disana, yang satunya girang karena kakak termanisnya ini dateng, hhe (karena umi-nya dateng, lebih tepatnya). But, yang satunya lagi malah cuek aja alias dia kembali dengan aktivitas nyuci bajunya, ngajak saya nyuci pula, gak sopan kan ?! huh.

 

**

mungkin emang udah sebulan ini umi belum sempet buat jengukin kalian ke kaki gunung sana. Bukannya karena gak mau, tapi karena satu dan lain hal, umi belum sempet kesana, apalagi abi.

So, sabar aja yah sist(s). ^^

Oke. akan aku kutip ulang kekata Bang Tasaro Gk ini,

 

“Suatu saat, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau cintai. Sebab, dengan atau tanpa seseorang yang kamu kasihi, hidup harus tetap dijalani” (GK)

^^

Tetep semangat yaa belajarnya.

tetep semangat yaa ngafalin Qurannya.

One day, katanya kalian kan mau pulang ke rumah dengan hadiah terindah buat umi

abi, buat aku juga deh, ^^(

yup. kado terindah dari kalian (nanti) yang akan selalu ng-buat aku tambah ngiri.

 

ohya, maaf juga kalo aku belum bisa nelpon, kaga ada pulsa lebih, hhe.

miss u all, coz Allah

* kenapa jadi yakin banget dah, nih tulisan bukannya nenangin hati, malah bikin tambah mau nimpuk saya yah ?

Huahaha..

’afwan.. gak bisa ngomong apa2 lagi. Selain,

: ”jalanin aja neng lika-liku di gunung sana,..

 

cara Allah men-tarbiyah masing2 kita kan, beda.

Monday, November 8, 2010

ketulusan itu mutlak dibutuhkan untuk menjadikan’nya’ sebuah kedekatan. Gak percaya ? Silahkan dicoba.

membunuh (?)

ternyata, menutup lembaran itu.

tak semudah membalikkan telapak tangan.

tak semudah membakar kertas2 ingin menjadikannya abu.

pun tak semudah mendiamkan tangisnya anak kecil hanya dengan memberikan sebuah mainan baru.

 

tapi lebih kepada menunggu,

menunggu waktunya saja,

bak penguraian polimer plastik.

atau seperti menunggu bintang itu meledak menjadi supernova.

mungkin lebih dari itu.

lama.....lamaaaa sekali.....

 

ternyata, bunuh-membunuh itu menyakitkan,

dari sudut pandang sang pembunuh, maupun dari sudut pandang yang dibunuh.

menyakitkan.

sangat.

shalihah-kan

Padahal, mereka hanya ingin tahu keadaan putrinya, malam itu.

Dengan lontaran tanya sederhana, “Kamu udah makan?”


Miris sekali, si nonataktahudiri itu malah mengabaikan saja tanya sang Bunda atau Sang Ayah . Ia lebih memilih untuk langsung masuk ke kamarnya.

 

Mungkin ia memang teramat lelah dengan berbagai peraktivitasnya di luar rumah.

Sehingga ia lebih memilih (men-)diam(-i) sapa dan tanya orang rumah, daripada khawatir kekata dengan nada (agak) keras yang nantinya akan terlontar.

Namun, betapa ia belum juga mau mengerti,

bila saja –rasa lelah- itu dapat dibandingkan.

Maka jelaslah, lelahnya kewajiban Sang bunda sepanjang hari di rumah akan lebih besar dibanding (sok) lelahnya ia menjalani hari di luar rumah –kuliah atau rapat inilah itulah atau apalah-

Tidak muluk-muluk, Sang Bunda-pun tentu hanya inginkan putrinya kembali ke rumah dengan wajah termanis, senyum terindah, sembari mencium tangan, tanpa ada raut lelah sekalipun pada air mukanya.


* Jangan biarkan ia terus begitu, my Allah..

Shalihahkan, shalihahkan, shalihahkan-lah Rabb..