Thursday, February 14, 2013
#Just.For.My.Ai
Tuesday, January 8, 2013
Metamorfozah #2
Sunday, January 6, 2013
metamorfozah #1
Saya hanya sedang ingin mengingat masa yang telah lalu. Mungkin suatu saat saya lupa, atau mungkin suatu saat saya telah tiada. Maka disini saya akan coba menulis dan berbagi, semoga ada manfaat yang bisa diambil, meski sedikit saja. :)
Saya bingung mau menyebutnya apa, jadi namakan saja
: M-E-T-A-M-O-R-F-O-Z-A-H :
Lahir sebagai sulung, dengan 3 ukhti dan 2 akhi sedarah. Keenamnya terlahir dari rahim seorang perempuan yang teramat mulia dan seorang ayah yang –terlalu- banyak jasa.
Sebuah Metamorfozah, :)
Bayi dan Balita.
Tidak banyak yang saya ingat di masa ini. Untuk mengingat-ingatnya, ya saya secara langsung suka meminta orangtua saya untuk menceritakan masa kecil saya. Ceritanya gak jauh-jauh dari kebiasaan saya yang suka makan roti segigit, kemudian langsung membuang roti tersebut. Juga cerita-cerita lainnya, yang jujur saya gak ingat, beneran. haha. Padahal katanya ini golden age ya? hehe
Kanak.
Saya pernah masuk TK, tapi keluar tanpa ijazah TK. hehe. Masuk ke TK A setahun, namun kemudian akselerasi langsung ke kelas 1. hehe. Thats why, kenapa usia saya -kemudaan- setahun dibanding usia teman2 normal saya di kelas. Well, Ada satu teman TK saya yang masih saya ingat sampai detik ini, namanya "Afifah". Disaat saya dan teman-teman yang lain masih iqra' 1, dia sudah lancar membaca Al Quran. Saya iri betul padanya. Sampai beberapa tahun kemudian, saya dengar kabar bahwa dia sudah menyelesaikan hafalan 30 Juznya. Pernah jadi korban Tsunami 2004 lalu, Alhamdulillaah ia selamat padahal sekitarnya telah jadi puing-puing. Sayapun berpikir, Allah pasti selalu lindungi keluargaNya di bumi, dan kalau tidak salah, sekarang dia tinggal di Aceh bersama keluarga barunya. MaasyaAllah :)
Saya bahagia mengenalnya, meski sebentar. :)
Setelah menyelesaikan TK setahun yang berujung tanpa gelar. *halaah*. Ibu saya mendaftarkan saya di sebuah sekolah dasar negeri, yang seluruh siswanya masuk siang. Alasan Ibu jelas betul, karena saya tidak bisa bangun pagi. :(
Jadilah saya siswa selama enam tahun yang baru mulai sekolah jam 12, sampai sore hari. Tapi selain itu, Ibu juga mendaftarkan saya di sebuah Madrasah Diniyah Awaliyah (semacam tempat ngaji gitu), jadi tiap pagi tetep aja, saya ngaji jugaaaaaa.
Kisah SD yang tidak pernah saya lupakan, hari pertama sekolah saya menentang orangtua saya dan berkata “aku gak mau pakai jilbab, malu. Ga ada temennya”, tapi kemudian orangtua saya mengiyakan “yaudah terserah kamu, nanti kalau di sekolah ada temannya yang pakai, besok pakai yaa :)"
Dengan PDnya, hari pertama kelas 1 SD, saya dengan seragam yang tanpa jilbab. Hehe. Ternyata di sekolah ada 1 orang yang pakai jilbab. Besoknya saya langsung bilang ke Ibu saya kalau “Mulai besok aku sekolahnya pakai jilbab! ”
Makanya, sampai sekarang, kalau ada yang bertanya, sejak kapan saya pakai jilbab, seenaknya saya bilang : sejak bayi kali, hehe. Tapi sempat dibuka di hari pertama sekolah, :D
Sekolah Dasar, enam tahun yang tak terasa, mengantar pada sebuah masa selanjutnya. Banyak diskusi dengan orangtua, mereka yang sungguh tidak banyak sekali memaksa. Contoh simpelnya: waktu ada acara PERSAMI –Perkemahan Sabtu Minggu-, disaat ada beberapa orangtua dari teman saya yang tidak mengizinkan anak-anaknya ikut. Tapi orangtua saya yang legowonya, mengizinkan saya. Haha. Senang punya orangtua yang “membebaskan” anak-anaknya. Ada lagi, saat kelas 6 SD, saya “bergaya” mau fokus Ujian kelas 6, jadi saya minta ngajinya “diberhentikan”. Mereka pun mengizinkan.
*Hal yang sampai sekarang kadang masih membuat saya menyesal, kenapa saya berhenti -mengaji- saat itu? Tidak tuntaskan hafalan dan selanjutnya masa SMP yang benar-benar membuat saya ngawur dan hedon
Hehe
*to be continued, Insyaa Allah* :)
#SAfar1434
- 070113
Wednesday, December 19, 2012
Gerak yang Menyembuhkan
Penolakan
Saturday, December 8, 2012
Niscaya itu, Sementara(kan) saja
“dan orang-orang yang beriman, beserta anak-cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak-cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”
(Ath Thuur: 21)
Friday, November 30, 2012
dari yang udah pernah jadi bagianmu, #MP!
Tuesday, November 13, 2012
Nikmati Saja
Maka, perlu ada ruang-ruang lain yang memang harus dikunjungi, disinggahi.
Bersyukur adalah ketika masih memiliki “keluarga” di tengah aktivitas nyekripsi. Ya yaa, menjadi satu hal yang patut disyukuri. Terlebih untuk sepanjang perjalanan pulang tadi.
itu Nikmat. :)
Ingin me-nyerius-kan diri, dengan tanpa menjauhkan diri dari berbagai alat komunikasimu, entah gadget atau “tab” socmed yang masih hidup.
Nyatanya menjadi satu hal yang amat teramat sangat sulit.
Tak bisa serius. Kehilangan fokus. Berbagai ruang-ruang lain yang masih mengikutimu, mau tak mau.
Meski bukan kau yang menghampiri mereka.
Allahumma, semoga semakin menyadarkan bahwa
: Apa-apa yang harus kita kerjakan memang selalu lebih banyak dari waktu.
: Lantas bagaimana mampu untuk menaklukkan waktumu, Zah.
Itu konsekuensi.
Thursday, November 8, 2012
Cermin terbaik kirimanNya
Allah selalu punya cara terkeren buat bikin kita ngerti, faham, dan pada akhirnya sadar.
See?
Akhirnya saya sadar,
entah ini adalah kesadaran saya yang keberapa.
Tapi sering, yap, sering.
Seriiiiiing banget Allah bikin saya sadar,
dengan cara yang ah, it's too simple.
atau terkadang lewat cara yang berputar-putar, tapi pada akhirnya disitu juga.
atau pernah juga, ibaratnya bikin saya dari Jakarta ke Bandung, tapi melewati Makassar dulu.
hm, apadeh ini analoginya,, haha.
yaa suka-suka saya lah yaa..
intinya begitu.
Mudah.
Mudaaah banget bagi Allah mah.
ciyusss deh, :P
dan kali ini, (meski) ini udah yang kesekian kali sih.
Tapi saya baru nulis tentang ini sekarang.
Hm, Dia memang paling Tahu, kalau saya selalu #nyess kalau dikasih cara yang beginian.
Beginian? hehee..
okesip, sebelum nambah berbelit-belit apa yang mau saya ceritakan..
Begini, Beginian itu adalah..
caraNya Allah buat saya, dan yang paling sering bikin saya #nyess sendiri adalah dengan sesimpel :
Allah memberikan cermin ke saya dan seketika itu pula saya (yang mau tak mau) diberikan kesempatan untuk berbicara sendiri di hadapan cermin itu.
**
Suatu siang, antara dua bocah perempuan, di sebuah kursi panjang di depan kantor Jurusan. Sembari menunggu dosen untuk melakukan bimbingan.
Saya ditemani oleh seorang teman, sebut saja Nia, yang selama empattahun lebih dikenal sebagai orang yang superpendiam. haha.
tiba-tiba dirinya melepas keheningan.. hhoo..
Nia : Zah, emang Allah selalu ngasih yang terbaik ke kita?
Saya : Iya, Ni... Pasti. Pasti. Apapun dan bagaimanapun yang Alah kasih ke kita. Itu pasti yang terbaik. Gak mungkin enggak. :)
Nia : walaupun, itu bentuknya musibah?
Saya : Hmm, iya *menghela napas*. Kadang, kita gak tau makna dibalik -apapayangkitaanggap- musibah itu. Tapi pasti ada hikmah. Dan itu yang terbaik.
Nia : meskipun bertubi-tubi ?
Saya : Bisa jadi itu ujian. Ujian itu kan kenaikan derajat keimanan. Ibaratnya gini Ni, gak mungkin kan, anak SMP, dikasih soal ujian SMA.. Itu terlalu sulit. Dan gak mungkin, anak SMP, cuma dikasih ujian anak SD, itu terlalu mudah. Masing-masing ada ukurannya. Allah tau ukuran kita, kita harus dikasih soalujian yang kayak gimana, dan Allah jamin kalau kita bisa melewatinya. Gak mungkin melewati kapasitas kita. Laa yukallifullahu nafsan ilaa wus'aha, gitu kata Allah. Intinya, tergantung sejauh mana usaha kita melewatinya. Kalau kata temen gw, kalau kita udah nyerah dan bilang gabisa, itu berarti: belum semua kemampuan kita kita kerahkan.
Allah pasti kasih yang terbaik, pasti Ni. Husnudzhan sama Allah. Itu kuncinya. Kunci biar Bisa sabar. Biar Bisa ikhlas. :)
Nia : Iya ya Zah,, Allah.Pasti.Kasih.yang.Terbaik.Buat.Kita. :)
Saya: #MasihHening
*sesering itu Allah ngasih pinjem cermin ke saya dan kali itu lewat teman yang saat itu sedang duduk di sebelah. Ia membiarkan saya berbicara padanya, pada teman saya. Tapi sejatinya, sungguh, saya sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Menampar-nampar halus benak saya. Belajar lagi tentang kata Ikhlas, Rela, Husnudzhan dan seperti yang saya sampaikan pada teman saya itu : Percaya. Kalau Allah selalu kasih yang terbaik buat kita, gak mungkin enggak.
Setelah agak lama hening kembali,
tiba-tiba Nia menanyakan hal lainnya..
Nia: Oh ya Zah.. Percaya gak zah, kalau jodoh itu....
Saya : -____________-" *berharapdosenlangsungdatang, tapi ternyata belum dtg2 juga. Sampai akhirnya obrolannya pun masih berlanjut. hahaa.
*jreng jreng.. ini cerita bakalan panjang. -next time saya sambung InsyaAllah yaa. :D
Oh My Allah,
Subhaanaka Allahumma Wa bihamdika..
#Dzulhijjah1433
*RoadTo1434, InsyaaAllah*
Wednesday, November 7, 2012
Random Reflection
#Awalnya sejak kubaca ayatNya, bahwa daun yang gugurpun telah ditetapkan dalam Lauhul Mahfudzh.
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi berpikir bahwa satu dan banyak hal yang terjadi pada hidupku adalah kebetulan.
Ya, singkatnya, aku tak pernah percaya dengan "kebetulan".
Karena seperti yang termaktub dalam surat cinta itu, semua terjadi karena kehendakNya.
Itu saja.
#Lain cerita.
Bersyukur saat diberikan kesempatan menjadi satu dari banyak orang yang belajar tentang ilmu manusia. Ilmu Jiwa. Psikologi, begitu banyak orang menyebutnya.
Belajar Psikologi itu belajar manusia. Belajar BK (Bimbingan dan Konseling) itu belajar untuk memahami orang lain, terlebih dalam hal afeksi. Satu hal yang perlu diingat, sebelum mengenal dan memahami mereka semua, terlebih dulu kita harus memahami diri sendiri.
Itu kuncinya.
#Belajar Belajar dan Belajar
#Memahami bahwa nyatanya memang ada pertahanan-pertahanan ego yang digunakan manusia. We call it "defense mechanism". :)
Dari mulai yang baik digunakan hingga yang buruk. Dari mulai yang jarang kita gunakan, sampai yang sering. Bahkan dari yang sadar kita gunakan, hingga yang tidak kita sadari sama sekali.
#Menjadi satu ketentuanNya bahwa aku memang harus ada disini. Menjadi satu bekal dan pembelajaran tersendiri untukku mengerti, dan semakin memahami.
Suatu hakikat : untuk apa, mengapa, bagaimana, lalu....
Satu lagi: tak harus semua pertanyaan terjawab saat ini juga. :)
*Dzulhijjah1433
Wednesday, October 31, 2012
ke-hidup-an dan Ular Tangga
Sunday, August 26, 2012
bahagianya kau miliki saudara adalah mereka mampu memandangmu sampai titik terburukmu, kemudian mereka pula yang setia menasihatimu, :')
Friday, July 27, 2012
kelak, dari rahim ini yaAllah. *aamiin* Rabbi habli minashshaalihiin, :)
Romantis itu sesederhana, seorang ayah yang masuk ke kamar putrinya, bawa setablet obat dan bilang "Nih obatnya yang ini, diminum". :') *yaiyalah romantis, biasanya cuma disuru2 minum obat, ga pernah nyampe dibawain* :D
Monday, July 23, 2012
rindu-harap
pada kelopak-kelopak mawar di pekarangan rumahmu.
pada awan-awan yang mekar bertebaran.
pada nyanyian-nyanyian musisi jalanan yang menemanimu sepanjang perjalanan pulang.
dan seketika itu, dalam rindu yang menghantarkanmu pada setangkup harap
bahwa di ujung jalan sana kau kan menemukannya.
sebuah batas yang menjadi kunci tuk menembus batas lainnya,
yang lebih mengangkasa.
~ruanghati,
4Ramadhaan1433
Monday, June 25, 2012
Unpredictable #2
Dear Allah, bantu aku menemukannya, hingga tiada sesal yang terlintas dalam diri,
Sunday, June 24, 2012
Pada akhirnya, hanya orang2 yang memiliki kepekaan dan kelembutan hatilah yang bisa menemukan hikmah dibalik sebuah perjalanan. Perjalanan yang tersasar sekalipun. dear Allah, bantu aku menemukannya, hingga tiada sesal yang terlintas dalam diri, karena percaya bahwa caraMu yang terindah itu niscaya. *Sya'ban 1433, dalam keharap-harap cemasan krn tersasar ke tempat asing yang baru kali ini ku jejak* #senyum #Bismillaah , Allah itu dekat, Zah.
Wednesday, June 20, 2012
"Lulus tepat waktu, skripsi yang selesai, ilmu yang manfaat, itu saaangat penting. Tapi yang membuatnya berharga adalah bagaimana selama proses perjalanan ke sana, kita bs meraih sebanyak2nya hikmatullah yang bertebaran. Dan bagaimana semakin dekat dengan ujung nya, semakin dekat pula hidup kita dengan Allah." #hasiltelaahberpikir --eNung Azizah M, 2012
Tuesday, June 19, 2012
"Menjaga" seorang dewasa, bisa jadi dengan meninggalkannya. "Menjaga" bagi seorang dewasa, tak melulu selalu bermakna seperti menjaga seorang bocah yang bermain gokar. :D
Friday, June 15, 2012
Aman(ah)
Seperti apa rasanya, ketika kau dihadapkan pada seseorang yang, dengan segenap kepercayaannya padamu, menitipkan benda kesayangannya padamu.
Lalu, karena kelalaianmu, ketidakcermatan kau menjaganya, benda itu rusak, entah pecah, atau mungkin sampai berbelah.
Bisakah kau gambarkan, bagaimana perasaannya saat itu ?
Sekali lagi, ketika dulu ia menitipkannya padamu, salah satu sebabnya karena ia telah mempercayaimu.
Tapi kamu justru mengecewakannya, kelalaianmu ketika menjaga, lalu merusaknya.
Bisakah kamu lukiskan, bagaimana kira-kira perasaan (ekspresi) orang itu > ? ?
Mungkin, kau akan meminta maaf padanya dan berusaha untuk mengganti barang itu semampumu.
Mengembalikan mood orang itu dengan caramu,
Mengakui salahmu tulus, dan mengatakan padanya
: “Maafkan aku, aku memang bukan sebaik-baik penjaga, mungkin ini cara Allah menegurku, untuk lebih kembali berhati-hati ketika menjaga titipan. Maafkan… “
Titipan.
Apa bedanya dengan amanah?
Sama.
Amanah itu titipan. Titipan itu amanah.
Sebab (sejatinya) tak ada satupun yang kita punya, ‘kan?
Jika merusak benda orang lain yang dititipkan padamu saja, begitu membuatmu merasa bersalah.
Bahkan harus menggantinya, meminta maaf padanya.
Maka,
“Bingkisan” yang Allah titipkan padamu itu,
Seharusnya memang dapat sungguh-sungguh kau jaga.
Jika satu dua rambu di perjalanan mengharuskanmu untuk berhenti sejenak, menepilah.
Jika titipanNya masih saja lalai kau jaga,
Maka, tetaplah menjaga.
Sebab Sang Penitip masih dengan setia menantikan permintaan maafmu, seberapapun lalaimu.
Hei,, hei ! kamu ! iyaa kamu !
Yang Menitipkannya padamu (sebenarnya) tak butuh dirimu,
Ia hanya ingin melihat kesungguhanmu, menjaganya “bingkisan” dariNya hingga batas akhir.
Itu. Itu. Dan hanya Itu.
: teruntuk, ruang hati paling dalam.
Semoga senantiasa Ia lembutkanmu, agar dapat kau petik beribu, bahkan lebih,
hikmahNya dari apapun yang kau lihat, dengar, dan rasa.
*walau hanya dari “sesuatu yang hilang”
~ Rajab 1433
#np: Snada - Rindu
Clock
Labels
- amazing (3)
- aneh (6)
- baginda (1)
- berjuang (1)
- bimbang (6)
- biografi (1)
- bisikanjiwa (6)
- buku (7)
- bunda (3)
- cas (1)
- catatanskripsi (3)
- cerita (32)
- convers (4)
- copas (15)
- dakwah (5)
- dijalan (2)
- duainsanmulia (1)
- dunialainku (4)
- dzikrulmaut (2)
- famz (1)
- favorit (6)
- hikmah (6)
- imaji (1)
- isengaja (3)
- kalamerz (6)
- kangennulis (1)
- kisah (5)
- korelmelko (2)
- kutipan (6)
- lihatlahsemesta (2)
- lirik (5)
- makanan (1)
- memori (5)
- mengajar (1)
- milad (2)
- mimpi (1)
- ngajar (6)
- nguli-ah (1)
- nguliah (5)
- nuraniku (3)
- obrolan (1)
- pelajaranmoral (2)
- pendidikan (4)
- poem (6)
- poems (1)
- quotes (2)
- quran (5)
- ramadhaan (9)
- referensi (1)
- refleksi (30)
- rekomitmen (7)
- renungan (35)
- sajak (2)
- sekedartau (2)
- sepintas (67)
- sists (16)
- sky (1)
- sohibukhuwwah (18)
- sokanalogi (3)
- solilokui (12)
- spirit (21)
- tarbawi (2)
- tentangcinta (7)
- tentangnya (4)
- totalitas (4)
- ukhuwwah (2)
- ungkapanhati (31)
- yangjadikenangan (5)
You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "